Sekitar jam 10:30 (1/5) kami datang ke Banten lama untuk mengetahui situs yang ada dibanten. kami berjumlah 13 orang, 10 orang crew magang dan 3 orang pembimbing Sebelum ke kaibon kami menyempatkan sebentar untuk melihat-lihat ke museum Banten, sebelum masuk ke museum kami disanah diminta pembayaran per orang sebesar seribu rupiah, ko mauk museum harus bayar sapa teman saya haris kepada kasir “untuk kelestarian museum” ujarnya kasir museum Banten, dan kami pun masuk. Melihat-lihat begitu banyak sekali di dalam museum itu benda benda bersejarah dari arca berbentuk mirip seperti kambing sampai ke perumahan suku baduy.
Sejenak setelah itu, kamipun dikumpulkan oleh ketua crew untuk berunding dan diberikan tugas. dibagilah tugas itu masing-masing satu orang satu tugas untuk meliput sejarah kepurbakalaan yang ada dibanten lama. ada yang ke benteng spelwizk, ke klenteng china, masjid Banten dan situs lainnya. Sementara saya di utus untuk meliput situs sejarah yang di kaibon.
Sebelum meluncur ke kaibon saya memutuskan untuk menunaikan shalat dhur ke masjid agung Banten, karna pada waktu itu sudah waktunya untuk menunaikan ibadah shlat dhur, setelahnya saya shalat maka meluncurlah saya ke kaibon dengan berbekal selembar kertas, pena dan berbagai pertanyaan, diayunkan lah kaki saya menuju ke sanah dengan niat dan semangat yang tinggi saya berangkat “bismilahirohmannirohim”ucap saya, jarak kaibon dari museum Banten diperkirakan 500 m,”aduh lumayan juga jalan kaki dari museum kekaibon cukup menguras tenaga mana cuaca panas lagi” eluhan saya, tak seperti yang saya kira. Kira-kira ada 30 menitan lebih saya berjalan, dan berjalan terus walaupun keringat sudah mengucur sampai ke pundak saysa tapi saya masih semanga, semangat terus, karma saya gak mau berhenti ditengah jalan. Setengah perjalanan sudah saya tempuh.
Untuk meyakinkah hati saya arah kaibon itu kemana maka saya menanyakannya ke warga setempat,kebetulan di depan saya ada seorang ibu yang sedang berdiri di depan rumanya gerak geriknya beliau mau masuk rumah“assalamu’alaikum “ sapa saya “waalaikuk salam” jawab ibu “ bum arah jalan ke kaibon kemanaya kata saya “lurus belok kanan lewat jembatan sedikit masuk lagi kearah kanan disitu tempatnya” jawab ibu “makasih bu” balas saya.diperkirakan ada 30 menit lagi dari sanah sampailah saya di tempat tujuan.
Melihat struktur bentuk kaibon sangat memprihatnkan sekalih, tak jauh beda dengan benteng surosoan pintu depannya sudah hancur hanya beberapa bagian aja yang masi berdiri dan di dalammya sudah tidak berwujud bangunan lagi sepintas saya melihatnya. Sebelum masuk ke kaibon saya mendatangi bapak mulawardi dirumahnya beliau sebagai keamanan dan yang tahu tentang seluk-beluk sejarah kaibon. “Assalamualaikum”sapa saya “waalaikum salam, silahkan masuk ”jawabnya, saya istirahan sejenak dan mengenalkan diri dan tujuan saya.
Disana saya keluarkan pertanyaan-pertanyaan yang sudah saya sampai di memori otak saya, bertanya mulai dari berdirinya kaibon sampai pungsi di jaman sekarang “kaibon salah satu bangunan pada jaman kerajaan dibanten, filosof kaibon diambil dari kaibuan, kaibon di dirikan pada pertengahan abad ke18 pada masa kerajaan………..luasnya sekitar 2 hektar kaibon di bangun. karna rasa yangnya sultan kepada ibundanya, kaibon pada waktu itu dibangn. Kaibon dulunya diperuntukan pengajian ibu-ibu beribadah bermusyawarah dan beristirahat, selain itu surosoan juga di jadikan tempat perundingan sultan untuk berpolitik(bersiasat perag) karna pada jaman kerajaan……….di benteng surosoan sudah rawan, karna serinynga terjadi peperangan di sanah, dan untuk memikirkan strategi perang para sultan memilih kaibon karna dianggapnya aman, di luar istanah kaibon dikelilingi kanal kanal kecil bentuknya seperti parit sekitar lebar 4-5 m. untuk memasuki kekaibon disanah terdapat 7 pintu pertama disebut pintu………..berciri has jawa bali karna mirip dengan banguan dibali, dan kedalamnya disnah ada dua pintu masuk disebut pintu…………bercirikan campuran eropa pintu ini tidak boleh dimasuki oleh masyarakat umum hanya keturunan sultan saja yang boleh memasukinya, dan satu pintu lagi baru menuju istana sultan. Di dalam kaibon juga di buatkan masjid diperuntukan beribadah dan airnya karna di kaibon dekat sekali denga cibanten maka airnya mengambil dari ci Banten tersebut. Cibanten adalah aliran sungai yang menghubungkan air sungai ke lautan dulu selain itu ci Banten di pergunakan masyarakat Banten untuk berlayar ke lautan dan ber nelayan mencar ikan, seiring perkembangan jaman karna terjadinya penumpukan tanah di pesisir sehingga aliran air menjadi dangkal dan sekarang tempat tersebut dijadikan tambak oleh para penduduk.” Papar bapak mulawarman sebagai keamanan di sana.
Ternyata kelestarian sejarah sampai masakini bisa dinikmati karena adanya peran pemerintah yang peduli terhadap sejarah ini.
Saya melihat rumput yang hijau terlihat rapih seperti lapangan bola dan sangat bagus sekali untuk kita menenangkan diri/menyendiri bagi orang-orang yang sedang patah hati.
Setelah saya melihat lihat-lihat dan banyak bertanya tentang kaibon maka saya pamit kepada bapak mulangkara, “trimakasih pak atas informasinya” sapa saya ama-sama” jawab bapak.
Saya pulang kebanten lama untuk memprsentasikan kepada teman-teman hasil dari wawancara saya dengan pengawas kaibon,setelah itu saya pulang deh… (aziz/mg)
Kamis, 14 Mei 2009
PENCAIRAN DANA PROPOSAL DIPERSULIT

Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (HMJ PGMI) IAIN “SMH” Banten merasa kesulitan untuk mencairkan dana kegiatan dari pihak akademik. Sejak 1 April hingga hari ini (23/04) belum cair, terlambatannya pencairan ini terkait dengan lamanya pengesahan dari pihak rektorat. Oleh karena itu banyak kegiatan yang tertunda karena ketiadaan dana. Hal ini pula dialami oleh organisasi lain seperti HMJ Muamalat IAIN “SMH” Banten. “Kami merasa kesulitan ketika mengajukan proposal karena merasa diperlambat di bagian umum dan kurangnya kinerja dan pelayanan, itu terlihat dari banyaknya kursi kosong dibagian umum.” Ujar Iwan ketua HMJ PGMI. Namun dari pihak Kasubag Umum rektorat pun membantah atas tuduhan itu. “Kami tidak pernah menunda setiap proposal yang di ajukan,” bantah Lilis salah satu staf bagian umum rektorat. Dia juga menambahi, “setiap proposal yang datang, langsung kami berikan ke Kasubag Umum hari itu juga, setelah kami catat di buku agenda. Kalau masalah lambatnya pencairan dana itu bukan urusan kami, kami tidak tahu menahu.”
Bantahan ini juga di tanggapi oleh Selamet pengganti Kurnia, bendahara umum, “sebenarnya bukan dari pihak bagian umumnya memperlambat, melainkan keterlambatannya dari pihak Rektor yang menangani lalu menyetujui proposal tersebut, dan yang menjadi hambatannya dikarenakan pihak rektorat jarang ada dikantor.”
Lain lagi dengan HMJ TBI, dari sejumlah proposal yang diajukannya ternyata tidak dipersulit, bahkan hanya dengan dua minggu anggaran dana sudah turun. “Untuk semester sekarang Alhamdulillah anggaran dana sudah turun semuanya sebesar 5 juta, sehingga program kerja dari pengurus bisa dilaksanakan. Berbeda dengan tahun yang lalu, kami cukup kewalahan ketika mengajukan proposal karena dipersulit dari pihak atasannya, sampai kegiatan berlangsung proposal baru bisa di cairkan, itupun harus melalui lobi sehingga dana dapat dicairkan 2,5 Juta, dengan alokasi dana yang kami ajukan yakni 3 juta. Setahu saya anggaran per semester untuk HMJ itu sebesar 5 juta, tapi kenapa ketika kami mengajukan anggaran 3 juta, mesti ada potongan?” Ujar Yeni, ketua HMJ TBI.
Menanggapi HMJ TBI, Selamet selaku bendahara umum menyatakan, “sepengetahuan saya dana untuk HMJ itu tidak terbatas, tapi tidak tahu pasti anggaran untuk HMJ dan UKM lainnya karena menurut sepengetahuan saya yang menentukan berapa batasan dana untuk HMJ dan UKM adalah pembantu rektor III (tiga) dan dapat dicairkan satu kali dalam satu semester, tidak bisa lebih.”
Dan untuk prosedur pengambilannya berbeda dengan semerter yang lalu, “Untuk tahun ini ada perubahan prosedur pencairan dana proposal baik HMJ, BEMF atau yang lainnya, supaya tidak mempersulit yang bersangkutan dan pihak rektorat, untuk setiap pengajuan proposal agar menyertakan foto copy nomor rekening bank, terutama Bank BRI, dengan alasan kalau kita menggunakan Bank BRI, uang itu bisa langsung di ambil, tidak dipersulit seperti bank yang lainnya. Adapun nomor rekening itu harus atas nama organisasi, sehingga dana tidak diambil langsung melainkan masuk ke rekening tidak seperti prosedur yang lama, setelah dana dicairkan maka bisa diambil langsung.” Ujar Selamet. (Aziz/Mg SiGMA)
Langganan:
Postingan (Atom)